Pertanyaan:
Mohon nasihat bagi orang yang suka menghabiskan waktu puasanya untuk tidur dengan alasan lemas, tidak bertenaga. Bahkan ada pula yang berdalil dengan hadits bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah.
Jawaban:
Ramadhan adalah bulan yang sangat agung dan penuh kemuliaan. Pada bulan inilah Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Di bulan ini pula pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Ramadhan adalah musim kebaikan, bulan untuk berlomba-lomba dalam amal shalih.
Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan teladan kepada umatnya untuk bersungguh-sungguh memanfaatkan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah. Beliau meningkatkan kualitas dan kuantitas amalnya; memperbanyak shalat malam, tilawah Al-Qur’an, sedekah, dan berbagai kebaikan lainnya.
Demikian pula para sahabat dan generasi salaf. Mereka menjadikan Ramadhan sebagai momentum emas untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebagai alasan untuk bermalas-malasan.
Ramadhan adalah bulan perjuangan dan kemenangan.
Dalam sejarah, dua peristiwa besar terjadi di bulan ini: Perang Badar pada tahun 2 Hijriyah dan Fathu Makkah pada tahun 8 Hijriyah. Dalam dua peristiwa tersebut, Allah memberikan kemenangan besar kepada kaum muslimin. Ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan bulan kelemahan, tetapi bulan kekuatan ruhiyah yang melahirkan keteguhan dan semangat.
Adapun menghabiskan siang hari dengan banyak tidur tanpa kebutuhan yang mendesak, maka itu adalah kerugian besar. Betapa banyak pahala yang terlewat, berapa banyak ayat yang tidak terbaca, berapa banyak doa yang tidak terpanjatkan. Terlebih lagi, kita tidak pernah tahu apakah kita masih akan dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya. Waktu kita terbatas.
Memang benar, orang yang berpuasa boleh beristirahat jika lelah. Tidur secukupnya untuk menjaga stamina bukanlah kesalahan. Namun menjadikan hampir seluruh waktu puasa untuk tidur, sehingga lalai dari dzikir, tilawah, dan amal shalih lainnya, tentu bukan sikap yang bijak.
Adapun hadits yang sering dijadikan alasan, yaitu:
نوم الصائم عبادة، وصمته تسبيح
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, dan diamnya adalah tasbih.”
Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abi Aufa. Namun para ulama menegaskan bahwa hadits tersebut dhaif (lemah), bukan sabda Nabi yang sahih.
Di antara ulama yang melemahkannya adalah:
1. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman
2. Al-Munawi dalam Faidhul Qadir
3. Al-Iraqi dalam Takhrij Ihya’ Ulumuddin
4. Muhammad Nasiruddin al-Albani dalam Silsilah Adh-Dha’ifah no. 4696
Bahkan Al-Iraqi menyebutkan bahwa salah satu perawinya, Sulaiman bin ‘Amr An-Nakha’i, adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits. Karena itu, tidak tepat menjadikan hadits tersebut sebagai pembenaran untuk bermalas-malasan.
Marilah kita jadikan Ramadhan sebagai kesempatan emas yang mungkin tidak terulang. Isi hari-harinya dengan tilawah, dzikir, doa, sedekah, dan amal-amal kebaikan lainnya. Istirahatlah secukupnya, tetapi jangan sampai waktu yang berharga ini berlalu tanpa makna.
Semoga Allah memudahkan kita dan seluruh kaum muslimin untuk memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Aamiin.








