Pertanyaan:
Paman nabi shallallahu’alaihi wasallam, Abu Thalib, telah memelihara nabi sejak usia beliau 8 tahun, kemudian punya peran melindungi Nabi saat sudah diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Lalu kenapa matinya kafir?
Jawaban:
Ini adalah pertanyaan penting yang harus didudukkan mengingat ada didalamnya syubhat dan was-was dalam masalah aqidah. Jawaban atas pertanyaan ini tersusun dalam beberapa point penting:
Pertama: Wajib diyakini bahwa Seluruh Keputusan Allah Penuh Keadilan dan Hikmah, tidak ada sedikitpun kezhaliman.
Wajib diyakini dengan keyakinan yang kokoh tanpa sesikitpun keraguan bahwa semua ketetapan Allah dibangun di atas keadilan dan hikmah yang sempurna. Berimannya orang yang beriman dan kafirnya orang yang kafir bukanlah kebetulan, tetapi berdasarkan ilmu, keadilan, dan kebijaksanaan Allah. Tidak ada kezhaliman sekecil apapun. Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
“Dan Rabbmu tidaklah menzalimi seorang pun dari hamba-hamba-Nya.”(QS. Fussilat: 46)
Tidak ada satu pun manusia yang dizalimi Allah, baik sedikit maupun banyak. Termasuk Abu Thalib, paman Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam, bahkan Iblis sekalipun Allah tidak menzhaliminya.
Kedua: Syubhat Seperti Ini Adalah Bisikan Setan.
Ketika muncul bisikan-bisikan buruk yang mempertanyakan keadilan Allah, atau meragukannya, atau mengarah kepada “menyalahkan” keputusan Allah, maka itu adalah bisikan setan yang harus segera diputus dengan isti‘ādzah dan kembali kepada ilmu.
Di antara bisikan tersebut adalah:“Apakah adil Abu Thalib wafat kafir, padahal ia memelihara dan membela Nabi ﷺ sejak kecil?
”Bisikan seperti ini tidak boleh dibiarkan, karena dapat menggoyahkan aqidah seseorang jika tidak dikembalikan kepada dalil.Allah Ta‘ala berfirman:
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ
“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka berlindunglah kepada Allah.” (QS. Al-A‘raf: 200)
Bisikan bisikan buruk diobati dengan segera memghentikannya sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam:
يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ
“Setan akan datang kepada salah seorang dari kalian lalu berkata: Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu? hingga akhirnya ia berkata: Siapa yang menciptakan Rabbmu? Jika telah sampai seperti itu, maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dan menghentikannya.” (HR. Al-Bukhari no. 3276 dan Muslim no. 134)
Ketiga: Allah Tidak Ditanya, Manusialah yang Akan Ditanya.
Pertanyaan semacam ini tidak sepantasnya diarahkan kepada Allah seolah-olah Allah perlu dipertanyakan keputusannya. Allah tidak ditanya Karena Allah Mahasempurna, Mahaadil, dan tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Hambalah yang semestinya ditanya: “Kenapa kamu memilih kekufiran?” Kenapa kamu mengingkari dakwah nabi padahal kebenaran telah tampak dihadapanmu?” Allah Ta‘ala berfirman:
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
“Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, merekalah yang akan ditanya.”(QS. Al-Anbiya’: 23)
Jika Abu Thalib wafat dalam kekafiran, itu bukan karena Allah menzaliminya, tetapi karena ia menzalimi dirinya sendiri dengan menolak iman. Yang ditanya adalah Abu Thalib, kenapa kamu memilih kekufuran?
Keempat: Hujjah Telah Tegak atas Manusia.
Allah tidak membiarkan manusia tanpa petunjuk. Allah telah memberikan kepada manusia akal, pendengaran, penglihatan, Allah utus para nabi dan rasul, juga Allah turunkan wahyu sebagai petunjuk-Nya, demikian pula Allah perlihatkan Mukjizat dan ayat-ayat Allah yang jelas atas seluruh manusia, termasuk kepada Abu thalib. Namun dia lebih memilih kekufuran atas iman. Allah berfirman:
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan, ada yang bersyukur dan ada yang kufur.”(QS. Al-Insan: 3)
Abu Thalib bukan orang awam yang tidak tahu kebenaran.Ia hidup bersama Nabi ﷺ, menyaksikan akhlak, melihat betapa banyak mukjizatnua dan betapa indah dakwah beliau. Bahkan di saat-saat terakhir hidupnya, Rasulullah ﷺ masih membimbingnya agar mengucapkan kalimat tauhid.Namun ia memilih berkata:
هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
“Aku tetap di atas agama Abdul Muththalib.”Maka tidak ada uzur baginya di hadapan Allah.
Kelima: Kebaikan Tanpa Tauhid Tidak Bernilai di Akhirat.
Ini adalah kaidah besar dalam aqidah Islam.Tidak ada amal yang diterima tanpa tauhid.Allah Ta‘ala berfirman:
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka berbuat syirik, niscaya gugurlah seluruh amal mereka.”(QS. Al-An‘am: 88)
Dan Allah berfirman:
وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Kami hadapkan amal-amal yang mereka lakukan lalu Kami jadikan ia seperti debu yang beterbangan.”(QS. Al-Furqan: 23)
Secara lahiriyah memang Abu Thalib berbuat baik namun tidak dibangun diatas iman. Kebaikan dan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam semata mata karena tabiat paman yanh sayang kepada keponakannya, tidak lebih dari itu.
Kebaikan yang tidak dilandasi tauhid dan keimaman.Maka kebaikannya tidak menyelamatkan di akhirat, meskipun Allah memberinya keringanan azab, bukan keselamatan.
Sungguh Allah adalah Dzat yang Mahaadil, Mahabijaksana, Abu Thalib tidak dizalimi, tetapi dia menolak iman dengan sadar dalam keadaan Hujjah telah tegak atasnya. Allahu a’lam.







