Pertanyaan:
Benarkah setiap penyelisihan agama (bid’ah) pasti akan mematikan sebagian ajaran Rasulullah ﷺ. ? Apakah bersandar kepada hisab falaki dan tidak mempertimbangkan ru’yatul hilal termasuk bentuk kebid’ahan? Apabila termasuk kebid’ahan, sunnah Rasulullah manakah yang akan mati dan teramputasi?
Jawab:
Benar, setiap kebid’ahan dilakukan pasti ada sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ yang dimatikan.
Bersandar kepada hisab falaki dalam menentuan awal ramadhan atau awal syawwal dengan tidak mempertimbangkan ru’yatul hilal termasuk bentuk kebid’ahan.
Dengan Hisab Falaki dalam menentukan awal Ramadhan dan awal Syawwal berimplikasi mematikan beberapa sunnah Rasulullah ﷺ diantaranya:
Pertama: Sunnah Ru’yatul Hilal
Dengan hisab falaki, ru’yatul hilal setiap tahun seakan tidak diperlukan dan hanya membuang waktu, tenaga dan biaya. Apalagi harus menetapkan ratusan titik di seluruh penjuru negeri untuk melihat hilal. Cukup sekali hitung dengan hisab falaki awal ramadhan bisa ditetapkan, bahkan untuk puluhan bahkan ratusan tahun ke depan.
Tidak diragukan bahwa bersandar dengan hisab falaki mematikan sunnah salaf umat ini untuk berusaha melihat hilal dengan mata kepala. Padahal sunnah ini dilakukan langsung oleh sayyidul Mursalin, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi terbaik umat ini, para shahabat, para tabiin dan tabiut tabiin.
Kedua: Mematikan sunnah ikmal (menyempurnakan bulan)
Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam bersabda bahwa jika tanggal 29 Sya’ban tidak terlihat hilal karena awan dan semisalnya, maka langkah yang dilakukan adalah menyempurnakan bulan sya’ban tiga puluh hari. Sebagaimana dalam Sabda Rasulullah ﷺ:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فإنْ غُبِّيَ علَيْكُم فأكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ.
“Berpuasalah ketika melihat hilal, dan berbukalah ketika melihat hilal, apabila pandangan tertutupi oleh debu, awan, maka sempurnakanlah bulan syaban tiga puluh hari.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah)
Ilmu hisab, tidak mengenal ikmal. Jika hitungan hisab telah menetapkan hari rabu sebagai hari ied misalnya, maka keputusan tidak akan berubah walaupun hari rabu (hari ke 29 Ramadhan) hilal tidak terlihat atau tertutup mendung.
Ketiga: Menyelisihi Prinsip ahlus sunnah untuk berpuasa dan berbuka bersama penguasa dan jamaah kaum muslimin.
Persatuan adalah prinsip yang sangat besar. Oleh karena itu diantara prinsip ahlus sunnah adalah berpuasa, berbuka, berhaji dan berjihad bersama pemerintah.
Atas dasar ini, teriring nasehat, berpuasalah bersama pemerintah yang telah berusaha menegakkan sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam menetapkan awal ramadhan dan awal syawwal, dan janganlah fanatisme golongan menjadikan mata buta dan hati terkunci.
Kita berlindung kepada Allah dari kesombongan dan berbanga diri dengan apa yang ada pada diri kita untuk menolak apa yang diajarkan Rasulullah ﷺ.





