Pertanyaan:
Ustadz, izin bertanya sekaligus memohon nasihat. Kita semua memahami bahwa Ramadhan adalah bulan ibadah dan tarbiyah iman. Anak-anak dan para santri di pondok pesantren—yang secara fitrah iman dan semangatnya masih naik turun serta kondisi jiwanya belum stabil—tentu sangat membutuhkan bimbingan yang berkesinambungan.
Dalam konteks ini, apakah sebaiknya waktu anak-anak di bulan Ramadhan difokuskan sepenuhnya untuk ibadah, sehingga aktivitas bermain atau olahraga ditiadakan, dengan tujuan melatih kesungguhan beribadah dan memperbanyak pahala? Mohon faedah dan arahan ustadz, agar langkah pendidikan yang kita ambil benar-benar bermanfaat dan memberikan hasil yang baik, baik selama Ramadhan maupun setelahnya.
Jazakumullāhu khairan katsīran.
Jawaban:
Bārakallāhu fīkum atas perhatian dan kepedulian Antum terhadap tarbiyah anak-anak di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan. Kepedulian seperti ini adalah tanda niat yang baik. Namun, niat yang baik harus diiringi dengan ilmu dan hikmah.
Sebelum menjawab secara langsung, ada beberapa kaidah penting yang perlu kita ingat bersama:
Pertama:
Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu, meskipun sedikit
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Ramadhan adalah bulan ibadah. Semestinya bagi selurih kaum muslimin termasuk santri untuk memperbanyak ibadah. Ingatkan para santri besarnya keutamaan ibadah di bulan Ramadhan, dan bagaimana tauladan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam neribadah di bulan Ramadhan, terlebih di sepuluh hari terakhir, saat turunnya malam qadar.
Kita juga wajib berayukur bahwa di bulan Ramadhan Allah memudahkan kita untuk beramal, semudah mudahnya.
Namun dalam tarbiyah, ada hal penting yang perlu selalu kita ingat bahwa istiqāmah lebih utama daripada semangat sesaat.
Tidak jarang kita dapati, di awal Ramadhan anak-anak dipacu (dipaksa) dengan banyak aktivitas ibadah, namun di hari-hari berikutnya semangat tersebut menurun bahkan terhenti karena kelelahan dan kejenuhan.
Anak-anak perlu diarahkan untuk menambah ibadah, namun dengan pola pembiasaan: ibadah yang realistis, terukur, rutin, dan berkelanjutan. Pola seperti inilah yang insyāAllah dampaknya akan terasa setelah Ramadhan, bukan hanya di dalam Ramadhan.
Kedua:
Syariat dibangun di atas kemampuan, bukan pemaksaan
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Jika aku memerintahkan kalian dengan suatu perkara, maka lakukanlah sesuai kemampuan kalian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Anak-anak memiliki kondisi fisik, mental, dan psikologis yang berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu, ibadah yang dibebankan kepada mereka harus berada dalam koridor mampu, ringan, dan mendidik, bukan memberatkan.
Dalam batas pandangan kami yang lemah, meniadakan seluruh sarana istirahat atau olahraga dikhawatirkan justru menjadikan ibadah terasa sebagai beban, bukan sebagai kebutuhan dan kenikmatan.
Sesekali mereka rehat, mengambil waktu untuk berolahraga – walaupun dengan porsi yang dikurangi – dibulan Ramadhan, akan lebih membantu mereka menikmati bulan Ramadhan dengan berbagai ibadah.
Ketiga:
Pentingnya keseimbangan: ada waktu ibadah dan ada waktu istirahat
(“Sā‘atan wa sā‘atan”)
Dalam hadits yang masyhur, ketika Hanzhalah radhiyallāhu ‘anhu merasa imannya naik turun, Rasulullah ﷺ bersabda:
سَاعَةً وَسَاعَةً يَا حَنْظَلَةُ
“Wahai Hanzhalah, ada waktu (untuk bersungguh-sungguh) dan ada waktu (untuk beristirahat).”(HR. Muslim)
Ini adalah kaidah agung dalam tarbiyah. Jika anak-anak dipaksa terus-menerus beribadah tanpa ruang istirahat dan penyegaran, sangat mungkin akan muncul:
kejenuhan,
kelelahan,
bahkan antipati terhadap ibadah itu sendiri.
Padahal tujuan utama pendidikan Ramadhan bukan semata-mata banyaknya aktivitas ibadah, tetapi tumbuhnya kecintaan kepada ibadah.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Kita berharap semoga momentum Ramadhan ini dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk meraih ridha Allah, sekaligus menjadi sarana tarbiyah yang bijak dalam mengarahkan anak-anak kita menuju jalan yang diridhai-Nya.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn. Kalibagor, 2 Ramadhan 1447 H







